PENCEGAHAN BERITA “HOAX” SEJAK DINI

PENCEGAHAN BERITA “HOAX” SEJAK DINI

Di jaman sekarang yang semakin modern ini, kemajuan teknologi semakin pesat. Kita tidak perlu susah payah untuk mengakses sebuah informasi, tinggal cari di Google dan semua informasi yang kita butuhkan tersedia. Misalnya saja kita butuh informasi tentang berita hari ini, maka kita tinggal ketik di kolom pencarian Google “berita hari ini” dan akan muncul situs-situs penyedia berita berdasarkan rating terbanyak.
Tidak hanya berita saja yang dapat kita akses di internet, melainkan kita bisa mendapatkan teman, kerabat, bahkan saudara yang sekian lama terpisah dapat terhubung kembali dengan adanya media sosial seperti facebook dan tweeter.
  Facebook sebagai salah satu media sosial terbesar di dunia. Kita dapat membuat grup di Facebook. Biasanya anggota grup akan membagikan informasi sebagai bahan diskusi. Sebagai contoh, nama grup tersebut adalah “Guru Kelas 4” yang anggotanya para guru kelas IV SD se-kecamatan Buluspesantren (nama kecamatan di Kabupaten Kebumen). Salah satu anggota membagikan informasi mengenai kalender pendidikan, kemudian mereka mengunduh file tersebut dan digunakan di SD masing-masing.
Siapa saja bisa mengirim berita, baik itu berita positif maupun negatif lewat media sosial. Banyaknya informasi yang tersebar melalui media sosial membuat kita terkadang bingung menyikapi informasi tersebut. Tak jarang muncul pemikiran “Benarkah informasi yang beredar di jejaring sosial itu?” Sebagai pengguna internet kita harus hati-hati dan cermat dalam memilih berita. Jangan sampai kita tertipu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, kita harus mengetahui dari mana suber berita itu diperoleh.
Susahnya mencari pekerjaan membuat seseorang mencari rupiah dengan cara-cara yang variatif. Termasuk dengan cara menipu para korban lewat jejaring sosial. Para penipu membuat iklan yang menarik di internet dan berharap ada yang mempercayainya. Misalnya, kasus penipuan dengan menawarkan biaya umrah di bawah harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Mereka (para korban) diiming-imingi dengan paket umrah yang murah dan berfasilitas mewah. Minat masyarakat untuk umrah yang tinggi membuat jamaah mencari informasi tentang biro perjalanan haji dan umrah dengan biaya yang lebih murah. Akan tetapi, penipu mengelabui korban dengan cara yang menarik sehingga korban tidak sadar jika dirinya sudah tertipu.
Kasus tersebut merupakan contoh penggunaan internet yang berdampak negatif. Tentunya tidak hanya kasus itu saja yang muncul di dunia maya, akan tetapi masih banyak kasus-kasus lain yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab yang bermunculan di internet. Untuk itu, kita sebagai pengguna internet jangan mudah terbujuk dengan iklan yang menawarkan harga yang jauh di bawah pasaran. Bisa-bisa uang kita habis karena “termakan” oleh bujukan penipu.
Berita-berita yang bermunculan di internet tidak jarang adalah berita omong kosong atau sekarang lebih dikenal dengan istilah hoax (dibaca: “hoks”). Di bawah ini, beberapa cara untuk mengidentifikasi suatu berita yang beredar di internet.
1.      Hoax Analyzer
Pada bulan April 2017 Microsoft telah mengumumkan pemenang Final Imagine Microsoft Cup se-Asia Tenggara. Pelajar Indonesia dengan nama Tim Cimol dinyatakan menjadi juara pertama, mengalahkan finalis dari Singapura dan Filipina.
Tim Cimol membuat aplikasi penangkal berita hoax yang bertujuan untuk memerangi peredaran berita palsu. Aplikasi yang diberi nama Hoax Analyzer itu, mampu mengidentifikasi hoax pada sumber informasi tertentu.
Hoax analyzer adalah aplikasi berbasis web yang memverifikasi kemungkinan jika ada berita atau ceritanya adalah fakta atau tipuan. Aplikasi akan mengecek silang hasil teratas dari setiap mesin pencari yang tersedia dan artikel yang direferensikan terkait dengan kata kunci yang disisipkan.
2.      Judul yang Provokatif
Berita hoax tidak jarang membubuhi judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax. Oleh karena itu, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya cari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.   
Medsos disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita bohong, fitnah, provokasi, kabar kebencian, isu bermuatan SARA, dan menebar teror. Masyarakat pengguna medsos harus bisa memanfaatkan perkembangan ilmu teknologi ini dengan bijaksana. Untuk itu, kita jangan mudah terpengaruh dan terprovokasi oleh pesan di medsos, serta jangan mudah menyebarkan berita atau informasi yang diperoleh sedangkan berita itu belum tentu benar.
3.
     
Alamat Website Sumber Berita
Kita bisa melihat dari mana alamat website sumber berita itu muncul. Jika alamat tersebut berasal dari website yang biasa saja, maka jangan dijadikan sebagai patokan. Kita bisa bandingkan berita di situs pemerintahan yang resmi.
Situs Resmi
Situs Tidak Resmi
Dapat dipertanggungjawabkan
Tidak pasti
Edukatif dan informatif
Dimungkinkan provokatif
Kepentingan umum
Kepentingan pribadi/kelompok
Menguntungkan
Terkadang merugikan

Tabel di atas merupakan beberapa perbandingan antara situs resmi dan situs tidak resmi. Situs tidak resmi memungkinkan penebaran berita palsu dan meresahkan masyarakat. Contoh situs resmi pemerintahan adalah https://kominfo.go.id dan www.menpan.go.id.
4.      Cek keaslian foto
Di era teknologi digital, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita hoax juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.
Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.
5.      Baca Komentar
Sebelum mengambil keputusan, baca terlebih dahulu komentar pembaca di medsos. Beberapa pembaca telah mengidentifikasi keaslian berita tersebut sehingga pembaca yang merasa dibohongi akan memberikan komentar. Hal ini membuat kita berpikir untuk mengambil keputusan terhadap berita tersebut.selain itu, lihatlah kolom penulis untuk memastikan akurasi mereka. Identitas samaran, bahkan tanpa nama merupakan indikasi berita hoax.

  Pada saat membaca berita di internet ataupun sosmed, seseorang terkadang tidak sadar kalau berita yang telah ia baca merupakan berita hoax. Ia mengikuti apa yang disampaikan pembuat berita hoax, sehingga tertanam di benak pembaca suatu hal yang terlanjur diyakininya. Pemerintah menyarankan untuk registrasi kartu prabayar dengan batas akhir pada bulan Februari 2018. Beredar isu bahwa berita itu adalah hoax karena data NIK yang tercantum pada KTP akan disalahgunakan ketika pelaksanaan pelmilu tahun 2019. Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Humas Kemkominfo, Noor Iza di Jakarta, Kamis (2/11/2017) menyatakan bahwa "Registrasi kartu pelanggan ini untuk melindungi masyarakat dari penipuan, tindak kejahatan, dan pelanggaran hukum dengan menggunakan sarana telepon seluler dan media elektronik lainnya". Menurutnya, Kemkominfo, Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian dalam Negeri dan seluruh operator telekomunikasi seluler berkomitmen untuk mensukseskan registrasi kartu prabayar secara nasional. "Pendaftaran itu dimaksudkan untuk mendukung transaksi online pada seluruh sektor termasuk ekonomi digital," ujarnya. Untuk itu,  Kementerian Komunikasi dan Informatika meminta masyarakat tidak mempercayai berita-berita bohong (hoax) yang menyarankan tidak melakukan registrasi kartu pelanggan.
Beredarnya berita hoax membuat masyarakat pengguna internet dan media sosial menjadi bingung untuk menentukan pilihan yang akan dilakukan. Mereka bingung untuk percaya atau tidak percaya terhadap isu-isu yang telah mereka baca. Berikut ini beberapa dampak negatif berita hoax:
1.      Takut
Masyarakat yang hidup di dekat sungai Lukulo (sungai di Kabupaten Kebumen) baru-baru ini merasa khawatir dengan pemberitaan munculnya buaya di sungai tersebut. Beredar video yang berdurasi 41 detik memperlihatkan penangkapan buaya di Desa Kedungwinangun, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen pada hari Selasa (17/10/2017) pagi. Di dalam video tersebut terlihat warga desa menangkap seekor buaya yang masuk ke area persawahan. Diduga buaya tersebut muncul setelah air di Sungai Lukulo meluap ke persawahan sekitar rumah warga. Rekaman tersebut milik  Ludiyono, salah satu warga Desa Kedungwinangun.
Berdasarkan keterangan pemilik video, beberapa dari mereka ada yang meminta langsung file rekaman tersebut. "Tadi udah ada beberapa yang minta rekamannya, mungkin sekarang sudah tersebar dimana-mana. Nggak apa-apa, yang penting jangan disebarkan dengan keterangan yang salah agar tidak menjadi hoax," pesannya.
Haji Masykur, seorang petani warga Desa Bocor, Kecamatan Buluspesantren yang tinggal di pinggir sungai merasa takut jika pergi ke sawah, semenjak pemberitaan munculnya buaya di Desa Kedungwinangun. Beliau merasa khawatir jika kejadian di Desa Kedungwinangun terulang di daerahnya, terlebih sekarang sudah memasuki musim penghujan.
2.      Bingung
Maraknya pemberitaan mengenai daftar ulang kartu prabayar membuat masyarakat pengguna HP merasa bingung, seperti disebutkan pada pembahasan sebelumnya. Bu Yana, salah seorang guru muda di salah satu SMK Swasta di Kabupaten Kebumen, mengatakan bahwa registrasi kartu adalah berita hoax. Beliau saat ini berpendapat jika dirinya melakukan registrasi dengan mencantumkan NIK maka data mengenai dirinya akan disalah gunakan menjelang pemilu 2019.
Berbeda dengan Bu Yana, Budi (Operator Sekolah di SDN 2 Bocor) menyatakan bahwa tindakan registrasi kartu akan meminimalisir tindak kejahatan melalui SMS. Seperti kita ketahui bersama, mudahnya mendapatkan kartu perdana di Counter HP membuat sebagian orang menyalahgunakanya untuk tindak kejahatan seperti penipuan yang mengatasnamakan pemenang lomba. Ujung-ujungnya pelaku penipuan meminta korban untuk men-transfer sejumlah uang. Di bawah ini contoh gambar tindak kejahatan lewat SMS.


                                                (Sumber: sumsel.tribunnews.com)

Saya seorang tenaga pendidik di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Buluspesantren. Suatu ketika saya menonton video di YouTube dengan judul “Trik Membuat Anda Gratis Internet Seumur Hidup”. Membaca judulnya saya tertarik untuk menonton. Di dalam video tersebut diterangkan langkah-langkah yang harus dilakukan supaya SIM Card pemirsa YouTube, agar bisa digunakan untuk melakukan internet tanpa batas secara geratis.  Video tersebut dilihat dari judulnya sangat menarik, terlebih bagi orang yang suka menonton YouTube. Akan tetapi, saya tidak percaya begitu saja. Setelah itu, saya menulis di kolom komentar “jangan mudah percaya, bisa-bisa kartu kalian rusak permanen”. Hal ini saya lakukan supaya pembaca berhati-hati terhadap video yang belum tentu benar. Berikut ini screen shoot tampilan di YouTube.

            Gambar: Screen Shoot di YouTube dengan judul yang menarik.


Gambar: Himbauan untuk berhati-hati terhadap tayangan di YouTube

Beberapa hari kemudian, Yugo (penjaga sekolah di tempat saya bekerja) bercerita bahwa dirinya telah tertipu dengan tayangan video di YouTube. Beliau mengikuti saran berdasarkan video tersebut. Hasilnya, kartu miliknya rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Beruntung kartu yang digunakan adalah kartu yang sudah tidak terpakai. Jika kartu yang digunakan adalah kartu yang permanen, maka dia akan kehilangan nomor kartu yang dimiliki untuk selamanya.
Selain ikut serta melakukan pencegahan terhadap berita hoax lewat media YouTube, saya juga ikut dalam pencegahan lewat media Facebook. Saya mengikuti grup dengan nama grup “PASAR ONLINE KEPANJEN”. Deskripsi grup tersebut adalah grup yang berisi “Forum bisnis, iklan barang , media promosi usaha bidang perdagangan barang dan jasa area Kepanjen - Malang dan sekitar”. Admin grup tersebut tidak bertanggung jawab atas kegiatan jual-beli yang merugikan salah satu pihak. Deskripsi tersebut dapat dilihat dari screen shoot berikut ini.


Gambar: Deskripsi Grup di Facebook

                   Seorang anggota grup “PASAR ONLINE KEPANJEN” mem-posting iklan dan menawarkan barang berupa kamera DSLR Canon Eos tipe 650D. Akun Facebook dengan inisial “HI” menjual kamera di bawah harga pasaran. Dengan melihat harga yang ditawarkan yaitu Rp 1.800.000,00  maka saya mencari informasi mengenai harga pasaran kamera tipe tersebut. Setelah saya cari ternyata harga second untuk tipe tersebut  adalah  4-7 juta. Untuk itu, saya ikut berkomentar supaya calon pembeli berhati-hati sebelum membeli barang tersebut.
                   Di bawah ini, beberapa foto tangkapan layar mengenai upaya pencegahan terhadap iklan yang terindikasi hoax.

Gambar: Iklan yang menawarkan harga murah.

Gambar: Analisis harga pasaran Canon Eos 650D



Gambar: Ikut serta memerangi berita dan iklan hoax

Sebagai tenaga pendidik, tentu kita khawatir dengan maraknya pemberitaan hoax di media sosial. Untuk itu, kita harus berupaya untuk mensosialisasikan kepada peserta didik sejak dini tentang cara menanggapi suatu berita. Siswa diminta untuk tidak langsung percaya begitu saja dengan berita-berita yang beredar di media sosial.
Cara menyimpulkan berita itu adalah berita hoax atau tidak, sudah dipaparkan pada pembahasan di atas. Dengan demikian, siswa diharapkan terhindar dari dampak negatif berita hoax. Siswa juga diminta untuk membagikan pengalaman tersebut kepada keluarga di rumah serta kerabat. Cegah hal-hal negatif dimulai dari upaya pencegahan yang sederhana.
Lindungi keluarga dan  kerabat serta masyarakat dari aksi-aksi oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tetap berhati hati untuk menentukan pilihan. Jangan mudah percaya terhdap isu-isu yang bersifat provokatif. Semoga bermanfaat.


Komentar